Opini

Thrift Shop: Langkah Kecil Hidup Minimalis Agar Bumi Tersenyum Manis

Minggu, 10 November 2019 | 10:50 WITA

bbn/ilustrasi/liputan6.com

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, DENPASAR.
Melesatnya arus globalisasi berdampak pada pertumbuhan di berbagai sektor industri, salah satunya tekstil. 

Pilihan Redaksi

  • Baliku Bebas dari Belenggu Plastik
  • Direktur dan Pengurus Bank Sampah di Badung Akan Digaji
  • TPA Suwung Kembali Normal, Pengangkutan Sampah di Kota Denpasar Lancar
  • Menurut KBBI, industri adalah kegiatan memproses atau mengolah barang dengan menggunakan sarana dan peralatan, misalnya mesin. Kecanggihan teknologi yang didapat di era globalisasi inilah menjadi salah satu pemicu perkembangan industri tekstil di Indonesia. 
    Sayangnya, pertumbuhan industri tekstil yang semakin melejit tidak dibarengi oleh pertumbuhan tingkat kepedulian terhadap lingkungan. Dikutip dari Majalah Forbes pada tahun 2017, industri fesyen dan tekstil merupakan polutan tertinggi kedua di dunia, setelah minyak. 
    Pernyataan ini diperkuat oleh Kementerian Perindustrian Indonesia yang menemukan limbah industri tekstil di Sungai Citarum tahun 2018 lalu. Alhasil, World Bank menyuntikkan dana sebesar 1,4 triliun untuk membenahi sungai tersebut. Memang tidak dipungkiri, tekstil yang nantinya akan diolah menjadi pakaian merupakan kebutuhan pokok setiap insan. 
    Arus globalisasi yang semakin kuat, memperluas referensi akan warna-warni fesyen. Pakaian yang dulunya kebutuhan primer, malah dapat bereformasi menjadi kebutuhan tersier. Golongan masyarakat kelas menengah sampai atas mulai berlomba-lomba untuk membeli pakaian dari brand terkenal atas nama gengsi, walau harus merogoh kocek yang tidak sedikit.
    Generasi muda atau yang acap kali disebut generasi milenial, menjadi salah satu fokus utama. Eksistensi melalui sosial media, seringkali dilakukan agar mendapat pengakuan dari orang lain, salah satunya dengan cara mengunggah gaya berpakaian sehari-hari di instagram. 
    Atas dasar itulah, di tengah persoalan globalisasi dan lingkungan yang semakin memburuk, muncul fenomena thrift shop. Thrift (penghematan) merupakan tindakan dimana seseorang memperjualbelikan barang bekas atau secondhand dengan harga jauh di bawah harga normal. Fenomena ini sedang menjadi tren di kalangan milenial. 
    Bahkan, rapper terkenal Macklemore menggunakan thrift shop sebagai judul lagu. Tidak hanya melalui sosial media, thrift shopping bisa dilakukan secara langsung di beberapa tempat di Indonesia, seperti Pasar Senen (Jakarta), Pasar Gedebage (Badung), dan Pasar Kodok (Bali). 
    Barang thrift shop dipasok dari beberapa produk reject perusahaan atau yang sudah tidak laku di pasaran. Pedagang mematok harga beragam, tergantung dari jenis kain dan brand produk yang dijual. Seorang konsumen RK (19) yang saya temui di salah satu pasar pakaian bekas di Bali mengutarakan bahwa, thrift shopping menjadi alternatif terbaik bagi milenial untuk mendapat barang jumlah banyak dengan harga yang minimalis. 
    Selain itu, barang yang dijual belum tentu memiliki kualitas yang buruk, bergantung dari kepintaran konsumen dalam memilih produk. Bahkan, RK mengaku barang yang dijual lewat thrift shop cenderung unik dan langka, sehingga kecil kemungkinan untuk memiliki pakaian “kembar” dengan orang lain. 
    Dilansir dari laman United Nations Climate Change, industri fesyen menyumbang 10% dari emisi gas rumah kaca global karena rantai pasokannya yang panjang dan memproduksi energi secara intensif. Memasuki pemanasan global, sebenarnya pemerintah tidak tinggal diam. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah mewajibkan sertifikasi ramah lingkungan pada industri tekstil, sejak tahun 2000. 
    Namun, masih ada beberapa perusahaan industri yang tidak peduli terhadap sertifikasi tersebut, terutama dalam hal Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL). Apabila tak diindahkan, kandungan bahan kimia berbahaya pada pakaian, dapat merusak ekosistem air jika perusahaan memiliki IPAL yang buruk. 
    Belum lagi, konsumsi air pada industri fesyen sangat tinggi, contohnya seperti pembuatan kaos berbahan katun yang dikatakan memerlukan 2.700 liter air. Sebenarnya, pakaian berbahan alam (seperti kapas) cenderung lebih mudah terurai. Dikarenakan kebutuhan akan pakaian yang tinggi di lingkungan masyarakat, berkembanglah bahan sintetis seperti polyester untuk menekan biaya produksi, namun susah diurai oleh alam. Apabila kita menelisik kembali lewat sosial media, banyak akun yang menjual barang bekas nan ciamik, dengan mengatasnamakan “thrift shop”. 
    Thrift shop yang dulu lebih dikenal dengan “penjual barang bekas” atau “pasar loak”, sudah bukan hal yang dianggap aneh lagi. Melalui thrift shop, kita dapat melakukan langkah kecil, perlahan ramah dengan lingkungan. Jika minat terhadap suatu produk menurun, maka akan dibarengi dengan produksi barang yang menurun pula. Perkembangan konsep fast fashion (perubahan mode fesyen dengan waktu cepat), diharapkan bisa diredam oleh gaya hidup thrift shopping. 
    Selain itu, barang-barang reject perusahaan pun tidak menumpuk menjadi limbah, sehingga kecil kemungkinan timbul penyakit baru akibat paparan dari limbah tersebut. Lewat thrift shop, dengan harga minimalis, kita bisa bergaya hidup mewah bak artis, namun bumi tetap tersenyum manis! Yuk, pedulikan lingkungan sekitar kita!
    Ida Ayu Meilasari Dewi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana
    Pemenang II lomba artikel Pekan Jurnalistik 2019 FK Unud  

    Penulis : Opini

    Editor : I Komang Robby Patria


    TAGS : Thrift Shop Pasar Kodok Opini



    Opini Lainnya :


    Berita Lainnya

    Trending Opini

    Berita Bali TV